Puasa dan Lebaran Pertama di Tokyo

Tahun ini menjadi puasa ramadhan dan lebaran pertama kami bertiga di Tokyo, serta menjadi lebaran ke 3 bagi saya di Negeri Sakura, Jepang.  Alhamdulillah puasa tahun ini dimulai pada awal Juni, yang merupakan musim hujan di Jepang dan masih belum begitu panas. Puasa 2 tahun lalu dan sebelumnya mungkin terasa lebih berat karena di puncak summer Jepang Juli-Agustus, selain itu puasa kami kali ini juga lebih singkat dari 2 tahun lalu, karena masa puasa di Tokyo lebih pendek sedikit daripada di Sapporo.

Puasa tahun ini di Tokyo, dimulai sejak jam 02.30 hingga pukul 7 malam. Kebanyakan teman-teman di Jepang, akan tidur baru setelah subuh, mengingat jeda antara buka puasa, terawih dan subuh yang cukup pendek. Terawih di Masjid biasanya mulai pukul 19.30-20.00 hingga pukul 22.00- 23.00. Ini merupakan puasa tahun ke 2 saya sambil menyusui, masih sama-sama berat tantangannya yakni haus. Apalagi si bayi yang juga kehausan dan keringetan terus sehingga sering menempel minta nyusu.

Tidak seperti ramadhan kami sebelumnya di Sapporo, suasana ramadhan kami tahun ini kurang kami dapatkan karena letak mesjid yang cukup jauh dari rumah kami, sekitar 30menit- 1jam naik kereta. Sedangkan saat di Sapporo dulu, kami hanya tinggal berjalan kaki untuk menuju Masjid Sapporo yang terletak hanya beberapa blok dari apato (sebutana rumah kontrakan di Jepang) kami tercinta Jujur saja saat ramadhan ini saya semakin rindu dengan Sapporo, tempat tinggal pertama saya setelah menikah. Rindu memasak bersama teman-teman, membuat takjil dan menu sahur di masjid, berbuka bersama dengan teman-teman Indonesia dan negara lain di masjid, menyantap makanan khas Mesir, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Indonesia yang bergiliran setiap minggunya. Rindu suasana ramadhan yang kental di masjid Sapporo, ah memang saya sudah jatuh hati dengan Sapporo.

Di Tokyo ini, hanya 1 kali kami ikut berbuka bersama di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) yang terletak di Meguro-ku, jalan 15-20 menit dari stasiun Meguro, yakni di minggu ke 3 puasa. Di sana KMII mengadakan acara tabligh akbar dan berbuka puasa bersama setiap minggunya. Yang datang biasanya orang Indonesia saja. Makanan yang disajikan juga makanan Indonesia tentunya, untuk takjil ada kue, brownies, es buah, dan aneka gorengan, sedangkan menu utama saat itu ada nasi, ayam kecap, telur balado, soto ayam, lalapan, tahu isi, bakwan goreng, kerupuk, buah seangka, melon dan jeruk. Sistem makannya prasmanan, jadi ambil sendiri. Saya benar-benar kagum, makanan disediakan dalam julah cukup banyak, padahal orang yang datang juga banyak. Oiya, di SRIT ini juga sedang proses pembangunan Masjid Indonesia. Selain SRIT, beberapa masjid seperti Masjid Tokyo Camii juga menyediakan makanan buka puasa setiap hari, menunya ala Turki.

Tahun ini lebaran di Jepang jatuh pada hari Rabu tanggal 06 Juli 2016, berbarengan dengan lebaran di Indonesia. Lebaran di negeri sakura ini jauh dari kesan lebaran di Indonesia, tidak ada takbiran dimana-man, tidak ada mudik, tidak ada libur juga, sehingga suami pun mengambil jatah cuti tahunannya 1 hari untuk sholat ied.  SRIT sebenarnya mengadakan malam takbiran, namun karna lokasi cukup jauh sehingga kami pun tidak ke sana. Zakat fitrah yang dikeluarkan di Jepang perorang  1500 yen, bisa dibayarkan lewat Fahima, KMII, atau masjid di sini.

Rencana awalnya kami akan shoat ied di SRIT gelombang pertama (pk. 07.00-07.45), namun ternyata karena kesiangan akhirnya kami baru sampai pk.07.05 dan sudah penuh sehingga harus menunggu gelombang ke dua, pukul 8 lewat. Setelah sholat ied kami berjalan ke KBRI bersama-sama jamaah lain, dan waah ternyata cukup jauh dari SRTI ke KBRI, sekitar 25 menit jalan kaki. Di KBRI memang diadakan open house setiap tahunnya, hari itu disediakan lontong sayur. Setelah menikmati hidangan kami pun melanjutkan perjalanan, hari itu kami ke Shinjuku dan tempat lain, sekedar menikmati libur lebaran.

Sama seperti lebaran sebelumnya, pertanyaan tersering dari keluarga dan teman, lebaran pulangkan hehehehe… padahal boro-boro di Jepang ada libur lebaran 😀

Walaupun udah lewat lebarannya, tapi mohon maaf lahir batin ya teman-teman..

Home sweet home, 12 Juli 2016. Pk.21.42 JST

27 derajat celcius ( real feel 28 derajat) humidity 83% (cukup bikin gerah :D)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s