Lika-Liku Hamil dan Melahirkan di Negeri Sakura (Catatan Kehamilan Anak Pertama)

Ada rasa bahagia, juga haru yang tak terlukis kata, saat yang dinanti itupun hadir. Namun tentu ada rasa bingung menyeruak tatkala minimnya informasi yang didapat mengenai kesehatan ibu dan anak terutama prosedur seputar hamil dan melahirkan di negeri sakura ini. Tak ingin perasaan bingung berlama-lama ada, saya dan mas suami segera mencari informasi sebanyak-banyaknya. Untungnya banyak teman di Sapporo dan kota lain yang sudah terlebih dahulu menjalaninya.  Alhamdulillah.

Saat dua buah garis itu muncul..

Di negeri sakura ini, setiap ibu hamil akan melaporkan kehamilannya dengan memberikan “tanda bukti” kehamilan berupa surat keterangan dokter ke health center kecamatan setempat (ward office) untuk mendapatkan buku kesehatan ibu dan anak (buku boshitecho) serta kupon hamil yang digunakan saat memeriksakan kehamilan (dengan kupon hamil dapat diskon walaupun tetap membayar 500-5000 yen sekali datang tergantung RS, dan berapa banyak pemeriksaan yang dilakukan). Karena hamil tanpa penyulit bukanlah dianggap sebagai suatu penyakit sehingga asuransi kesehatan di Jepang tidak akan mengcover biaya selama pemeriksaan kehamilan. Tanpa kupon hamil tentu biaya yang akan dikeluarkan pun menjadi cukup banyak.

Saat hamil pertama ini, ada beberapa penyulit kehamilan yang membuat saya harus beberapa kali cek up ke RS diluar jadwal kontrol hamil normal. Untuk yang penyakit/ kontrol diluar hamil normal ini dicover asuransi, tetap bayar sekitar 2-3 ribu yen (sekitar 30% dari biaya berobat) setiap kedatangan. Setelah beberapa kali, kami ditawari juga mengurus kartu kuning RS. Kebetulan RS tempat saya periksa hamil, Kinikyou Sapporo Byoin, merupakan RS bantuan pemerintah dan kebetulan lagi suami mahasiswa yang mana termasuk bebas pajak. Dengan  kartu kuning RS, berobat saya di RS itu jadi gratis (30% tadi dibayarkan oleh keikut sertaan kartu kuning). Namun tentunya ada persyaratan dan form-form yang harus dilengkapi dan diurus.

Buku boshitecho, buku riwayat kesehatan ibu dan anak..

Jadi isinya buku boshitecho itu apa aja sih ?  Ada riwayat kesehatan ibu dan janin selama hamil, riwayat kelahiran bayi, catatan imunisasi serta cek up kesehatan anak hingga usia 6 tahun. Isi buku ini hampir sama di seluruh Jepang dan terdapat dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Untuk orang asing akan diberikan 2 buah buku boshitecho, dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Saya pun mendapatkan buku boshitecho dalam kedua bahasa tersebut. Bagi saya, buku ini sangat penting, bukan hanya sampai anak usia 6 tahun, namun hingga dewasa karena di dalamnya ada catatan imunisasi, pola tumbuh kembang dan sebagainya, ingatan bisa jadi lupa namun bukti pencatatan tak akan terbantahkan. Teringat mama di rumah yang begitu rapi menyimpan KMS (Kartu Menuju Sehat) keempat anaknya sehingga sangat berguna khususnya bagi saya ketika masuk kuliah. Ah.. saya pun ingin mencontoh beliau. Oiya di dalam buku boshitecho Sapporo yang saya dapatkan juga diselipkan segepok kupon imunisasi yang nantinya dipergunakan saat melakukan imunisasi (di beberapa daerah, kupon imunisasi akan dikirim ke rumah setelah mendekati jadwal imunisasi jadi tak selalu ada di boshitecho). Ketika pindah daerah (dari Sapporo- Tokyo), kupon imunisasi daerah Sapporo nggak berlaku, jadi kami mengurus lagi ke health center kupon imunisasi yang baru dan akan dikirim ke rumah saat mendekati jadwal imunisasi.

boshitecho (1)

FKY, Fenda,Kholil,Yuka

Buku boshitecho dalam bahasa Inggris (biru) dan bahasa Jepang (merah), kupon hamil (kiri bawah-kuning), kupon imunisasi (kanan bawah-coklat muda)

Setiap ibu hamil juga akan mendapatkan gantungan tas yang bertuliskan dalam bahasa Jepang onaka ni akachan ga imasu yang artinya ada bayi di perut. Saya pun memasang gantungan ini pada tas yang sering saya gunakan. Gantungan ini cukup penting karena perut ibu hamil trimester awal belum terlihat membesar sehingga gantungan kunci ini dapat digunakan sebagai penanda kehamilan dan ibu hamil tetap dapat menikmati kursi prioritas di berbagai moda transportasi umum. Kalau di Sapporo kursi prioritas ini seringkali terlihat kosong namun lain halnya dengan di Tokyo. Di ibukota Jepang ini hampir setiap hari kerja keretanya penuh padat dengan penumpang tak terkecuali di kursi prioritas. Meskipun demikian, orang yang duduk di sana akan memberikan kursi prioritas ini kepada yang berhak termasuk pada ibu hamil. Kalo tetep nggak dikasih duduk, colekin aja sambil nunjukin gantungan tas hamil hehe

Gantungan kunci hamil

Selain buku boshitecho, berbagai kupon, serta gantungan tas, sebenarnya ibu hamil yang melapor ke kecamatan (ward office) juga akan mendapatkan berbagai macam informasi berupa buku dan CD seputar kehamilan, gizi dan parenting. Namun sayangnya, kebanyakan informasi tersebut dituliskan dalam bahasa Jepang.

Pemeriksaan Kesehatan pada Ibu Hamil di Jepang

Setelah mendapatkan buku boshitecho dan kupon hamil, ibu hamil dapat memeriksakan kehamilan di rumah sakit atau klinik terdekat. Kontrol kehamilan akan dilakukan setiap 4 minggu sekali hingga usia kehamilan 23 minggu, pada minggu ke 24-35 minggu setiap 2 minggu sekali dan setiap 1 minggu sekali setelah usia kehamilan 36 minggu. Pada usia kehamilan sekitar 7 bulan nanti, seorang ibu hamil akan diminta mengisi formulir untuk memilih tempat dimana akan melahirkan nantinya. Selain itu kita juga akan diminta mengisi jenis makanan yang boleh dihidangkan saat perawatan pasca melahirkan. Untuk muslim, jangan ragu menuliskan semua makanan yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Pemeriksaan yang rutin dilakukan saat hamil cukup banyak. Pada setiap kali kunjungan, saya akan  diminta melakukan cek urin (urinalisis), penimbangan berat badan dan tensi darah secara mandiri, cek denyut jantung janin oleh bidan serta USG yang biasanya dilakukan 1 bulan sekali. Selama saya menjalani kontrol kehamilan, pengukuran tinggi fundus rahim atau pemeriksaan perut secara manual oleh dokter atau bidan tidak pernah dilakukan. Untuk hal ini mungkin dapat berbeda-beda bergantung tenaga kesehatan dan rumah sakit.

Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium atau usg, selanjutnya ibu hamil akan dipanggil ke ruang dokter untuk berkonsultasi. Dokter kandungan di sini biasanya tidak meresepkan vitamin, namun sebenarnya kita dapat membeli sendiri vitamin seperti asam folat di toko obat atau perlengkapan anak. Untuk obat-obatan ada beberapa dokter yang jarang sekali meresepkan obat, namun dokter saya ketika itu beberapa kali meresepkan obat mual muntah.

Pada trimester awal biasanya akan dilakukan pemeriksaan darah rutin, golongan darah dan rhesus, gula darah, HIV, hepatitis B, hepatitis C, sfilis (raja singa), HTLV, toksoplasma, rubella, dan tiroid. Apabila saat pemeriksaan tidak di dapatkan antibody terhadap rubella, dokter biasanya akan merekomendasikan melakukan imunisasi MR (mumps-rubella) setelah melahirkan sebagai persiapan untuk kehamilan berikutnya. Di Indonesia sendiri, imunisasi rubella digabung dalam bentuk imunisasi MMR (measles-mumps-rubella) yang saat ini di rekomendasikan oleh IDAI untuk diberikan pada saat anak ber-usia 15 bulan dan 5 tahun (dapat dilihat pada tabel imunisasi IDAI di halaman selanjutnya). Saya sendiri telah melakukan 2x suntik imunisasi MMR sebagai persiapan sebelum menikah.

Pada saat trimester 2, ibu hamil juga akan melakukan glucose challenge test, pemeriksaan darah rutin serta swab vagina untuk pemeriksaan terhadap bakteri gonore dan klamidia. Sedangkan pada trimester 3 nanti, akan dilakukan kembali cek darah rutin serta  pemeriksaan terhadap Streptokokus grup B. Cukup banyak ya pemeriksaannya.. pasti mahal, itu juga yang saya pikirkan saat itu. Namun biayanya akan dipotong dengan kupon hamil, sehingga cukup terjangkau. Seingat saya, selama periksa hamil rata-rata membayar 2-3 ribu yen sekali datang.

Oiya, saat trimester ke 3 ini, ibu hamil juga akan mendapat penjelasan dari bidan di rumah sakit tempat bersalin seputar proses persalinan, kelahiran bayi, serta berbagai kebutuhan ibu dan bayi selama di rumah sakit dan di rumah. Penjelasannya lengkap banget banget,, kalau saya bukan dokter pun pasti ngerti. Di jelasin sampai detail fase-fase persalinan, obat-obatan, vakum, dsb. Sasuga nihon.. Selain itu saya juga diminta menandatangani inform consent bahwa bisa terjadi cerebral palsy pada bayi saat proses kelahiran. Duh serem banget, tapi harus tanda tangan ya wis banyak doa aja biar semua lancar. Memasuki minggu ke 36-37, ibu hamil juga akan mendapatkan pemeriksaan CTG untuk menilai kontraksi dan denyut jantung janin.

Btw, kebanyakan dokter disini akan berbicara dalam bahasa Jepang kepada pasien tak terkecuali orang asing. Beruntung di Sapporo terdapat organisasi volunteer SEMI ( Sapporo English Medical Interpreters ) yang akan membantu menterjemahkan ucapan dokter dan bidan ke dalam bahasa Inggris. SEMI tidak hanya terbatas untuk pasien hamil dan melahirkan, tetapi orang asing dapat meminta bantuan SEMI saat ingin berobat ke rumah sakit atau klinik manapun. Jika ingin meminta bantuan SEMI hanya perlu mengirim email dan SEMI pun akan merespon dengan cepat.

Dan ketika waktu melahirkan itu pun tiba…

Pada suatu sore ketika musim dingin di Sapporo hampir berakhir, dengan ditemani suami tercinta, saya melahirkan bayi perempuan cantik kami tepat di usia kehamilan 37 minggu 5 hari. Yuka, begitu kami memanggilnya, menjadi bagian dari nama terbaik yang kami berikan sebagai salah satu haknya. Yuka juga menjadi salah satu amanah dan investasi dunia akhirat bagi kami berdua. Bismillah.. Anak sholehah dan hafidzah mama papa, welcome to the world..

Karena begitu melelahkannya proses persalinan, inisiasi menyusui dini (IMD) yang sudah saya dan suami rencanakan sejak jauh-jauh hari pun akhirnya tidak dilakukan dan terlupakan begitu saja. Dari bidan rumah sakit, didapatkan informasi bahwa IMD memang tidak rutin dilakukan disana, untungnya rumah sakit menerapkan sistem rawat gabung dan sangat pro ASI *ya wees laah*.. Jadi karena di negeri sakura ini tidak semua rumah sakit akan melakukan (IMD), rawat gabung dan pro ASI sehingga mencari informasi mengenai rumah sakit tempat melahirkan nantinya menjadi hal yang cukup penting. Iyaa, ada yang nggak rawat gabung memang juga saya 1-2 x menemukan teman yang tidak rawat gabung bersama bayinya.

Setelah kelahiran, Yuka tidak mendapatkan suntikan vitamin K1 dan vaksin hepatitis B (kecuali jika ibunya hbsAg positif yaitu terinfeksi hepatitis B) seperti halnya di Indonesia. Sebagai gantinya, diberikan secara oral vitamin K2 sebanyak 2 kali saat masih perawatan di rumah sakit dan beberapa kali saat di rumah hingga bayi ber-usia 3 bulan. Vaksin Hepatitis B yang pertama akan diberikan pada saat bayi berusia 2 bulan.

Bagaimana dengan ari-ari atau plasenta bayi?

Beberapa teman di Sapporo maupun di prefektur lain sebenarnya telah menjelaskan bahwa kita tidak diberikan plasenta atau ari-ari bayi secara utuh. Saat hari melahirkan tiba, kami pun hanya diberikan sekotak kayu kecil berisi sedikit potongan tali pusat Yuka, bukan plasenta/ari-ari bayi utuh sebagaiman lazimnya di Indonesia. Selain kotak kayu itu, kami juga diberikan kertas yang tertera cap kaki bayi cantik beserta amplopnya untuk di bawa pulang. Mas suami sih seneng karena tak harus repot mengubur plasenta atau pake ritual macem-macem seperti banyak yang dilakukan di Indonesia.

Lalu bagaimana biaya melahirkan di Jepang ?

Biaya melahirkan di Jepang juga tentunya mahal (besarnya biaya tergantung RS), namun pemerintah Jepang akan memberikan bantuan sehingga kita cukup membayar kekurangannya, bahkan beberapa daerah juga memberikan bantuan lagi sesuai persyaratan tertentu. Untuk yang sudah bekerja ada juga perusahaan yang memberikan bonus untuk setiap kelahiran anak.

Dari pengalaman saya melahirkan normal di RS bantuan pemerintah (dengan status saya dan suami bebas pajak- btw bahasa kasarnya bebas pajak itu ya termasuk orang miskin di Jepang haha) , total biaya melahirkan dipotong 420 ribu yen bantuan dari asuransi, namun masih sisa 80 ribu yen terbayarkan oleh bantuan dari pemerintah daerah sehingga bahkan surplus karena bantuan pemerintah daerah yang cukup besar. Seorang teman di Tokyo harus menambah biaya lagi 90ribu yen (dari total biaya-420ribu) karena melahirkan dibukan RS bantuan pemerintah dan suaminya pun bukan bebas pajak karena sudah bekerja. Tapi mudah-mudahan dapat bonus dari kantor yaa dirimu….

Untuk mengetahui RS mana yang merupakan RS bantuan pemerintah bisa ditanyakan ke pusat kesehatan daerahnya masing-masing. Meskipun judulnya RS bantuan pemerintah dan termasuk kelas ekonomi, wiih kamar tempat bersalin dan perawatan saya nyaman dan enaaaak bangeeet.. Lahiran pun jadi nyaaaaaman luar biasa, berasa VIP. Ruang tempat saya lahiran itu, 1 kamar gede layaknya kamar VIP, ada kamar mandi di dalam, udah kayak hotel lah. Sedang ruang perawatannya 1 kamar ada 2 tempat rawat inap dengan 1 kamar mandi bersama, masing-masing tempat rawat dapat sofa, kulkas, tv (harus beli kartu tv tapi) dan antar ruang disekat tembok, ada pengatur AC/pemanasnya masing-masing jadi intinya tiap pasien punya privasi. Namun kamar perawatan ini bisa beda-beda setiap RS, pas saya memang luas, nyaman dan enak banget, apalagi di kamar itu cuma hanya ada saya pasiennya. Selain itu saat lahiran saya juga dapat 1x makan siang spesial dengan komposisi makanan yang muahal-muahal kata temen yang sempet lihat makanannya *saya lihat di supa ikannya aja hampir 1000 yen* dan dapat pijat kaki relaksasi gratis. Biaya perawatan kelahiran anak juga murah, di Sapporo kalau anak sakit aja bayarnya 500 yen atau jika di Tokyo 0 yen padahal tagihan aslinya ntah berapa banyak (waktu yuka lahir tagihan perawatannya 15 juta tetapi saya bayar hanya 500 yen atau 60 ribu), tetapi karena anak dijamin pemerintah jadi murah atau bahkan bisa gratis (baca juga 🙂

Oiya, Bagaimana dengan kelahiran SC/ sesar?. Untuk di Jepang, lahiran SC itu biasanya kita tak perlu menombok biaya macem-macem, malah surplus karena SC termasuk penyakit jadi banyak dicover sana sini. Info dari seorang temen yang menjalani SC.

Note : untuk meminta keringanan 420ribu yen atau bantuan melahirkan lainnya harus mengisi form tertentu, nggak ujug-ujug dapet, jadi harus diurus ke pusat kesehatan daerahnya masing-masing.

Melahirkan di Jepang, hanya berdua dengan suami, jauh dari sanak saudara, harus menginap minimal 5 hari di rumah sakit untuk proses persalinan normal dan minimal 7 hari untuk persalinan sesar bukan perkara mudah. Minimal hari perawatan setelah melahirkan dapat berbeda-beda bergantung kebijakan rumah sakit. Suami pun tidak boleh menginap di rumah sakit. Saat itu, banyak yang bisa dikeluhkan memang namun `bukan bahagia yang membuat bersyukur tetapi dengan bersyukur kita jadi berbahagia, Dek`. Alhamdulillah, ketika melahirkan suami boleh mendampingi saya di ruang induksi, ruang bersalin bahkan bisa menemani selama perawatan dari pagi sampai malam sehingga saya merasa tenang. Banyak juga teman yang datang berkunjung, membawakan buah tangan yang bagus dan lezat. Alhamdulillah. Kalau diingat-ingat kehamilan pertama ini bukan tanpa kendala, beberapa masalah kehamilan kerap kali menghampiri bahkan tak jarang membuat hati ini jatuh bangun. Selain berdoa dan berikhtiar, ada kata-kata suami yang terus menguatkan saya, `percayalah kalau anak ini rejeki tak akan kemana, Dek..`

Pasca melahirkan..

Selama 5 hari perawatan pasca melahirkan, saya mendapatkan pemeriksaan rutin di masa nifas, dan dipantau cara menyusuinya oleh bidan, termasuk pada malam hari. Saya agak sempet stres diliatin dan ditanyain mulu proses menyusuinya hehehe.. Nyala lampu kamar di tengah malam, langsung disamperin perawat ditanyain ada kendala nggak, terakhir menyusui jam berapa dsb (jam 9 malam lampu kamar harus dimatiin kalau aturan di RS saya). Pada 2 hari terakhir perawatan saya dan suami juga diajarkan cara perawatan bayi termasuk memandikan bayi yang sangat berguna untuk bekal merawat bayi di rumah, apalagi saya dan suami belum pernah berpengalaman memandikan bayi kecil usia hitungan hari itu. Oiya, ada 2 hal yang cukup berkesan bagi saya selama menjalani perawatan pasca melahirkan yakni ketika mendapatkan pijat kaki relaksasi dan adanya semacam ucapan selamat atas kelahiran berupa satu set menu makanan mahal yang tertata apik dan lezat, lengkap dengan vas bunganya . Ketika itu saya benar-benar merasa dimanjakan sebagai seorang pasien.

Selama perawatan di rumah sakit, bayi juga akan rutin ditimbang dan diperiksa termasuk pemeriksaan bilirubin atau kuning setiap hari. Pada bayi juga dilakukan tes pendengaran yang hasilnya juga akan ditempel di buku boshitecho. Selang beberapa hari di rumah, sang bayi pun juga akan mendapatkan kunjungan dari bidan rumah sakit maupun kecamatan secara cuma-cuma.

Kore kara ganbarimasu, Mas..

Akhirnya hari Rabu yang dinanti-nanti itu pun tiba, pagi itu setelah bayi diperiksa dokter anak dan diambil darah untuk pemeriksaan penyakit bawaan (hasilnya akan diberikan saat cek up 1 bulan setelah lahiran-ibu dan bayi- di RS tempat bersalin) kami berdua boleh pulang. Sehari sebelumnya dokter spOG juga telah melakukan usg untuk meyakinkan tidak ada perdarahan di rahim saya. Ah..Kangen sekali rasanya dengan apato mungil kami yang nyaman. Keluar gedung rumah sakit, udara dingin Sapporo kembali menyapa. Salju masih saja sesekali turun dan terlihat menumpuk di beberapa ruas jalan. Nampaknya musim dingin masih akan terus berlanjut, meski di pulau lain musim semi sudah mulai memberikan sinyalnya.

Sebagaimana pada umumnya, kami pun juga merasakan amat sangat kurang tidur. Untungnya hingga usia 6 minggu saja Yuka rewel tengah malam, Alhamdulillah cukup singkat dari biasanya. Karena kami hanya berdua (iyaaap tak ada ortu atau sanak family yang menemani atau membantu), kami pun membagi tugas. Tugas malam saya hanya menyusui, selebihnya suami yang mengerjakan. Ah romantis sekali, terimakasih ya Mas.. Padahal kamu harus bangun pagi-pagi sekali setiap hari.

Tak terasa satu bulan pun berlalu, Saya dan Yuka pergi ke rumah sakit tempat melahirkan untuk check up 1 bulan, sayangnya kali ini berbayar sekitar 1500-3000 yen. Saat itu saya pergi hanya berdua dengan Yuka (tentunya ditemani SEMI juga sebagai penerjemah), karena suami harus ke kampus. Saat kontrol ini, dokter Takimoto yang bertugas, dokter kandungan yang beberapa kali memeriksa kehamilan saya. Beliau juga merekomendasikan tes papsmear karena belum saya lakukan saat hamil dulu. Papsmear ini sebaiknya dilakukan 1-3 tahun sekali ya teman-teman untuk deteksi dini kanker serviks. Setelah priksa, tanya-tanya, saya, yuka, Takimoto sensei dan salah satu anggota SEMI pun berfoto ceria..

Beratkah lahiran di Jepang dan mengurus bayi kecil berdua sama suami aja?

Tentunyaa.. namun ada banyak hikmah yang di dapat. Jadi lebih mandiri, bisa mandiin bayi dari usianya yang hitungan hari (coba yang di Indonesia berapa banyak yang udah mandiin bayinya sendiri dihitungan hari? hayooo tunjuk jari), menikmati kebersamaan bersama bayi full time dan banyak lagi.. Indahnya begadang, indahnya memasak dan membuat kue disela-sela nyeri jahitan  pasca persalinan. Oiya di Jepang itu pasca melahirkan ibu dan bayi disarankan dirumah saja selama sebulan untuk menghindari penularan penyakit dari orang-orang (untuk si bayinya) dan agar ibu bisa istirahat (ya walaupun nggak istirahat juga sih pasti hehe). Intinya apapun harus disyukuri karena ada banyak hikmah di dalamnya.. Bersyukurlah, dan Allah akan menambah kan nikmat-Nya..

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh Arfenda Puntia

Sapporo, 14 Agustus 2015, direvisi 13 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s